Monday, September 12, 2011

Cerita makan-makan

JCo Donut
Baru kali ini beli J-Co setengah lusin  plus minuman hot latte yang ternyata dapat dua tambahan donut orinya J-Co. Yak..berada di Kota kembang bersama sang kekasih tercinta menikmati hangatnya hot chocolate dan Tiramisu latte membuat aku tak ingin beranjak dari sofa apalagi menyantap delapan donut yang tentunya dibagi berdua selama sejam lebih..Green tase menjadi favor pada hari ini..

Dua hari di sini membuat kita sakit perut dan tiga kali bolak-balik toilet, sampe kenal sama yang jaga toiletnya. Kenapa sih ga dikasih diskon yak? >.<

Jalan-jalan bentar keliling Mall terus udah siang deh akhirnya makan siang di AMPERA, lumayan la..sambelnya pedes banget!

Makanan Ampera Bandung
Niat awalnya mau ikutan naik wahana di transstudio, tapi karena harga ticketnya lumayan mahal belum lagi ngeliat wahananya yang serem. khawatir tiba-tiba ga mood rugi duit kan..so kita putuskan buat nonton di XXI. Hiyaaaaaa ternyata film Indon semua, ya bener aja si Aden (panggilan sayang ibu kos to my dearest) kagak nafsu nonton, daripada rugi. Pas lagi jalan beberapa langkah Aden mengajak buat karaokean di NAV, pas banget..lagi pengen teriak-teriak plus ngenalin Aden sama suasana begituan (halah gaya banget yak?) n bernyanyilah berdua sejam-an yang tak berasa dan akhirnya menambah sejam lagi buat menyakiti kerongkongan... CAPE..

Berhubung haus dan lapar kita makan empek-empek (gatau kenapa tiba-tiba) terus lanjut ngobrol n foto-foto di luar Mall. nah pas lagi mau nunggu taxi untuk lanjut ke supermarket yang lain eh..deket resto SOLARIA sok atuh..maem lagi..nasi ayam asam manis n ayam rica-rica-rica..Alhamdulillah kenyang sekali..

Manggil taxi n berangkat ke supermarket terdekat di rumah..yak..pulangnya jalan kaki karena gak jauh-jauh amat dari rumah dan mampir ke cafe Mie Aceh yang lumayan ENAK lo...Cie Rasa Lom! 

Alhamdulillah akhirnya tiba di rumah jam 10 malam dengan perut kenyang eh..tapi kok lapar lagi ya..hadeuh..

Friday, September 2, 2011

Sedang

Hey..
Saya sedang kurang sehat dan di rumah ini sedang tidak ada orang cuma saya sendiri. Saya baru baru saja membaca blog salah satu teman saya yang sering menuliskan tema "cinta" dalam blognya. Hmm.. saya yakin semua setuju kalau tema itu tidak akan pernah berakhir.

Wow..saya hampir lupa untuk menulis kalau sekarang sedang dalam suasana bulan Syawal - Idul Fitri...dan sekarang i'm in my home town Yap benar!! Saya lagi senang dan bahagianya. Alhamdulillah.. Saya jadi kurang sehat begini yang sudah tiga hari ini, gara-gara minum Teh Botol Sosro dingin he he..maklum saya alergi dingin, hey..lagi ga mau ngebahas itu juga kalle..

Cica (ponakan saya yang hampir genap 2 tahun) sudah bisa bicara lebih dari 4 kata dalam satu kalimat, sudah mulai bisa praktek shalat, baca Al-fatihah, bertingkah polah seperti komedian yang buat semua orang bisa tertawa melihat kebijakan cara bicaranya yang menyerupai orang dewasa, bahkan bisa berakting seperti baby! of course semua itu anugerah ilahi..what a wonderful day with you Cica..

Rumahku..meskipun masih saja aku belum punya kamar for all my own stuff..tapi aku sangat nyaman sekali berada di sana, hmm ga berasa mau balik ke Jogja lagi..ke Wonosari lagi untuk menjalankan sisa praktek ku dalam rangka mengambil gelar profesi Mpsy. But pals, di sana say punya banyak cerita yang ga bisa saya ungkapin  satu persatu yang buat saya makin memahami hidup ini Subhanallah...begitu banyak cerita kehidupan manusia yang membuat saya makin bersyukur apa yang telah Allah berikan padaku. Alhamdulillah...

Well..well..wel...waiting for my next story yah...Caw!

Wednesday, July 6, 2011

Diary RSJ Soeroyo Magelang

Alhamdulillahirrabbil'alamin..Terima kasih yang tak terhingga  Kepada Sang Raja Seluruh jagad raya untuk mengabulkan segala permohonanku yang akhirnya tinggal selangkah lagi berproses menjadi seorang psikolog  Amiiiin.
Anyway, setelah menempuh 2 semester kemudian tibalah waktunya praktek kerja profesi (PKP). Aku termasuk salah satu yang ditempatkan di RSJ Prof.dr. Soeroyo Magelang bersama 13 temanku yang lain. Wow..suasana Magelang hampir seperti Sabang (bagi yang pernah ke Aceh). Berbukit-bukit, dingin di malam, pagi dan sore hari , namun siang matahari cukup cerah untuk mengeringkan pakaian yang dijemur, tidak terlalu padat seperti jogja, tapi tidak pula terlalu sepi, banyak toko-toko di pinggir jalan. dansering dilewati bus-bus besar.
Kedatanganku ke Magelang disambut oleh perwakilan RSJ dan langsung setelahnya menempati ruang asrama  kemudian kami beramai-ramai mencari informasi tentiran (pembekalan) dengan beberapa psikiatri dan psikolog yang diadakan pada minggu pertama ini.
Subhanallah..perasaan pertama adalah "bingung" tentu saja, selain daerah RSJ yang cukup luas dan tergolong sepi serta masih merupakan bangunan tua peninggalan Belanda, sungguh belum pernah punya pengalaman berinteraksi dengan pasien RSJ terutama yang rawat inap alias berada di bangsal. Pada saat aku mengunjungi bangsal yang telah diizinkan oleh seorang psikolog yang bertugas di sana, deg-degan sih enggak cuma ya..masih kaku, mau berbicara seperti apa dan bagaimana..Alhamdulillah semua mengalir apa adanya. Melihat mereka ada rasa sedih, kasihan, dan seperti tidak percaya bahwa makhluk Tuhan ada yang seperti ini dan bisa menjadi seperti ini. Alhamdulillah aku masih diberikan kesadaran memahami makna cinta kasih dan sayang Allah SWT dan melihat mereka dengan caranya menjalani sisa hidupnya masing-masing. Entah apa yang terjadi dengan hidup, keluarga, dan lingkungan mereka. Sungguh Allah Maha Besar dan begitu banyak rahasia yang terkandung disetiapnya. Ku syukuri penuh rendah diri kepada Allah Swt yang telah menciptakanku sseperti ini.
3 hari telah terlewati dengan beban tugas kuliah serta beban mental yang ada di kepalaku yang mengiang2 terus- menerus,  semoga dapat diatasi Ya Allah...Menarik nafas dan memvisuallisasikan kemenangan melewati pertemupuran  diri dalam menjalani hidup dengan damai. Keadaan ini merupakan salah satu jalan kehidupan yang telah kupilih dan hidupku masih akan terus berwarna dengan hal-hal yang lain dan akan sangat menarik lagi tentunya. PKP ini hanya sebagian kecil pengalaman yang akan sangat berguna dan kusyukuri kehadirannya. Perjalanan hidupku harus lebih baik setiap esoknya. Pastikan bahwa kita adalah HambaNya yang selalu bertaubat dan bersyukur Amiiiiiiiiiiinnnnnn

Friday, May 20, 2011

Health Psychologyst

Sekitar dua minggu lalu saya mendapat sebuah tugas yang entah bagaimana tepatnya instruksi tugas tersebut sehingga saya mempersepsikan bahwa tulisannya berisi impian profesi saya ke depan setelah menyelesaikan pendidikan keprofesian ini. Berikut merupakan salah satu dari sekian banyak impian profesi saya, yang dideskripsikan agar lebih mudah dipahami pembaca dan follower  :) terutama mengenai psikolog dan salah satu dari sekian banyak jenis psikolog di dunia.
Well, Saya sangat berminat pada psikologi kesehatan. Ke depan saya  ingin menjadi ahli di bidang psikologi kesehatan.  Psikologi kesehatan ini merupakan salah satu spesifikasi psikologi yang berfokus bagaimana faktor biologis, psikologis, dan sosial berpengaruh terhadap kesehatan dan penyakit. Permasalahan yang terjadi biasanya berkaitan dengan  sistem perawatan kesehatan (health care system),  permasalahan gaya hidup dan kepribadian yang berpengaruh terhadap kemunculan penyakit.
Alasan yang membuat saya berminat terhadap psikologi kesehatan awalnya adalah ketertarikan saya terhadap adanya gagasan bahwa antara ilmu kedokteran dengan psikologi yang entah bagaimana memiliki hubungan sejarah yang sangat panjang. Dimana keadaan ini diformulasikan oleh Sigmund Freud yang sebagai seorang dokter menemukan beberapa pasien menunjukkan gejala penyakit fisik tanpa adanya gangguan organik. Freud akhirnya mengkonversikan gejala tersebut dengan teori psikoanalisanya sebagai konflik emosional tidak sadar. Selain hal tersebut di atas, dewasa ini perubahan gaya hidup manusia seperti pola perilaku makan, bekerja, istirahat, olahraga, dan pola perilaku yang menjadi kebiasaannya sangat berpengaruh terhadap kesehatan individu itu sendiri maupun lingkungan. Individu memiliki caranya masing-masing dalam menghadapi situasi yang penuh stress. Hal itu juga tidak luput dari kepribadian seseorang yang juga berhubungan dengan kesehatan.
Secara umum, psikolog kesehatan sangat berperan secara klinis membantu individu maupun kelompok untuk mencegah penyakit dan meningkatkan perilaku sehat. Psikolog kesehatan juga membantu dalam ruang lingkup medis dengan cara melakukan asesmen perilaku, wawancara klinis, dan tes kepribadian. Kegiatan lain yang dilakukan adalah melibatkan intervensi terhadap individu atau kelompok seperti intervensi dalam usaha mengurangi stress, melakukan promosi dan pemeliharaan kesehatan, program rehabilitasi, bagaimana seseorang secara psikologis mampu mengatasi penyakit dan penderitaan yang dialaminya, dan banyak lagi yang lain.
Di Indonesia, bahkan di dunia lapangan pekerjaan psikologi kesehatan sangat baru. Profesional ini masih terus dalam pengembangan. Kebanyakan psikolog kesehatan akan bekerja di rumah sakit, klinik, dan juga tidak menutup kemungkinan menjadi akademisi di universitas sambil melakukan pertolongan secara langsung terhadap klien atau memberikan sumbangan secara tidak langsung melalui penelitian, pengajaran, dan kegiatan konsultasi.
Peningkatan kapasitas dan profesionalitas dalam bidang ini sangat diperlukan terutama dalam hal teknik psikoterapi yang berguna dalam melakukan intervensi bagi individu maupun kelompok, modifikasi perilaku yang menggunakan prinsip kognisi dan belajar berperan untuk memahami dan membantu perubahan perilaku manusia, dan pendidikan kesehatan serta pelatihan mengenai psikologi kesehatan itu sendiri.
Psikologi Kesehatan berada di bawah naungan divisi 38 dalam APA (American Psychological Association) yaitu health psychology.  Divisi ini bertujuan meningkatkan kontribusi psikologi untuk memahami kesehatan dan penyakit melalui penelitian dasar dan klinis, pendidikan,dan kegiatan pelayanan serta mendorong integrasi informasi biomedis tentang kesehatan dan penyakit dengan pengetahuan psikologis saat ini. Psikolog kesehatan dapat bekerjasama dengan ahli medis/ dokter dalam melakukan praktek kerja berkaitan dengan hubungan psikologi dengan kesehatan manusia, adanya hubungan penyakit mental dengan penyakit fisik, dan melakukan intervensi, prevensi dalam kaitan biopsikologi.  Selain divisi 38, Psikolog kesehatan juga dapat bergabung di divisi 12: Society of Clinical Psychology, di sini psikolog kesehatan dapat terlibat di bagian Association of Psychologists in Academic Health Centers (APAHC). Selain itu psikolog kesehatan juga bergabung pada divisi 17 : Society of Counseling Psychology  di sini, psikolog kesehatan berkontribusi memberikan konseling mengenai psikologi kesehatan. Dalam divisi 22: Rehabilitation Psychology, di sini psikolog bergerak dalam praktek rehabilitasi individu maupun komunitas, memberikan pelayanan kesehatan mental, dan mengupayakan pribadi yang mengalami kecacatan  untuk semakin sehat secara psikis dan juga melakukan intervensi-intervensi psikologi baik secara individual maupun kelompok. Pada divisi 28: The Division of Psychopharmacology and Substance Abuse psikolog kesehatan dapat  bergabung untuk melakukan promosi, pengajaran, penelitian, dan penyebarluasan informasi mengenai efek obat pada perilaku. Selanjutnya divisi 40 : Clinical Neuropsychology, pada divisi ini psikolog berperan mempromosikan psikologi kesehatan terkait dengan penelitian hubungan antara otak dan perilaku manusia. Pada divisi 50:  Society of Addiction Psychology, pada divisi ini psikolog kesehatan ikut mempromosikan kemajuan penelitian, pelatihan professional dan praktek klinis dalam berbagai perilaku adiktif bermasalah termasuk penggunaan alkohol, nikotin, dan obat-obatan lainnya serta gangguan kecanduan yang melibatkan perjudian, makan dan perilaku seksual. Pada divisi 55: American Society for the Advancement of Pharmacotherapy, psikolog kesehatan berperan meningkatkan praktek perawatan kolaboratif antara psikologis dengan farmakologis dan profesi kesehatan lainnya.
Demikian penjelasan singkat mengenai psikolog kesehatan :)

Wednesday, April 20, 2011

Tari Saman



Meuseukat
Baru kemarin malam saya akhirnya menemukan foto diri dari salah satu pementasan tarian Saman yang saya sebut dengan "tarian Meuseukat", rasanya kangen banget kepengen nari dan ikut show lagi...(mau lanjut cerita pengalaman menari tapi males) dan sekarang baru saja saya membaca berita yang di share teman di twitter mengenai tarian Saman yang ternyata diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia. Berikut kutipan berita tersebut berisi tentang pernyataan Direktur komunitas Musik Etnis Aceh Saleum Group Imam Juwaini  mengenai tarian Saman. Secara historis Tari Saman yang dikategorikan oleh UNESCO masih sangat umum karena di Aceh sangat beragam tarian tersebut. Pada dasarnya Tari Saman terbagi menjadi dua bagian  yang menjadi satu kesatuan yaitu :
Tarian  Seudati
1. Rateb Duek (Dzikir duduk) digunakan oleh masyarakat pedalaman Aceh
2. Rateb Dong (Dzikir berdiri) digunakan oleh masyarakat pesisir Aceh
Tarian Saman yang dikenal pada masyarakat Aceh diantaranya:
a. Saman Gayo
b.Saman Seudati (orang pesisir)
c.Rateb Meusekat (dimainkan oleh perempuan di Meulaboh)
d. Tari Saman Nagan Raya
Beliau juga menanggapi seharusnya Pemerintah menjelaskan  tarian Saman mana yang masuk ke dalam warisan budaya dunia sehingga nantinya tidak ada yang melakukan klaim sepihak, hal ini berguna untuk menjaga keharmonisan diantara orang Aceh. Selama ini tarian yang digunakan di Jakarta dan di luar negeri bukan tarian Saman melainkan tari "Rampoe" yang artinya  mengadopsi semua tarian saman yang ada di Aceh. Pesannya : "Jangan sampai tari Saman itu hanya sebagai tema tetapi isinya bukan. Itu kan bisa merugikan masyarakat yang memiliki tarian Saman."


Tari Saman Gayo




Tari Saman (Agam)

Friday, April 15, 2011

Buat Para Bujangan


Setiap pasangan muda-mudi yang menjalin 'hubungan' cinta kasih pasti akan dihadapkan pada pertanyaan besar: Mau dibawa ke mana hubungan kita...? Seperti lirik sebuah lagu yang sedang populer. Jawaban yang dinanti-nanti adalah: pernikahan! Namun, kebanyakan tidak sanggup meyakinkan diri menikah di usia muda. Alasannya cukup beragam, belum mapan, belum siap mental, masih ingin berkarir, dan lain sebagainya. Hal-hal ini kerap membebani pikiran kawula muda.
Jadi meskipun seseorang sudah lama menjalin hubungan, bahkan ada yang sudah lama sekali, terkadang masih enggan ketika dihadapkan dengan yang namanya pernikahan. Bagi sebagian pemuda, seolah-olah pernikahan itu menjadi momok yang harus dihindari.
Meskipun tak semuanya, tapi banyak juga para pemuda yang gugup ketika bertemu dengan calon mertua ketika ditanya mengenai kesiapan untuk menikah. Pertanyaan-pertanyaan seperti, “Kerjanya di mana?” Bahkan terkadang ada yang lebih tajam lagi seperti, “Gajinya berapa sebulan?” atau “Kapan akan menikah?”
Sebetulnya wajar saja hal ini dipertanyakan oleh orangtua si perempuan yang membutuhkan kepastian dari pihak calon menantu dan berharap anak gadisnya mendapatkan calon yang tepat. Namun tak sedikit juga para pemuda yang mundur, karena belum siap atau kurang pedemenanggapi pertanyaan “sakti” tersebut.
Berbagai pertanyaan kemudian timbul seperti: “Apakah untuk menikah harus sudah punya pekerjaan dulu?”, “Memangnya berapa sih gaji minimal untuk menikah?”, “Butuh dana berapa sih buat resepsi pernikahan?” Mungkin inilah yang kerap muncul di benak para pemuda yang hendak melamar.
Terlepas dari benar atau tidaknya, ternyata kesiapan finansial seringkali dijadikan faktor utama kesiapan seorang pemuda untuk menikah. Padahal di dalam QS. An-Nuur: 32-33 telah dijelaskan, “Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. Dan orang-orang yang tidak mampu nikah hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya.”
Coba kita lihat kembali petikan, “... Jika mereka miskin, Allah akan memberi karunia-Nya.”
Subhanallah, begitu besarnya kasih sayang Allah SWT yang memudahkan langkah hamba-Nya yang ingin menikah. Allah SWT telah mengaruniakan kepada kita kemampuan untuk menjalani kehidupan. Apalagi jika menikahnya dengan semangat juang yang tinggi untuk bisa hidup mandiri. Jika sudah ada jaminan (rezeki) dari Allah SWT, mengapa kita masih ragu lagi?
Rasulullah saw bersabda, “Wahai segenap pemuda, barangsiapa yang telah mampu untuk menikah, maka hendaklah ia menikah karena menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih dapat memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu menikah, maka hendaklah dia berpuasa, karena puasa itu akan menjadi perisai baginya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Dalam kenyataannya saya terkadang menemukan teman yang beranggapan, jika ingin menikah harus mapan dulu. Sebenarnya menurut saya ukuran kemapanan seseorang itu berbeda-beda, tergantung bagaimana mengambil sudut pandangnya. Ada yang beranggapan kalau mapan itu harus punya rumah dulu atau harus punya mobil dulu, bahkan ada yang beranggapan mapan itu harus punya gaji sebanyak sekian dan sekian.
Saya mencoba mengambil perumpamaan dengan mengajak pembaca mengenang kembali ketika melihat pemandangan yang sangat indah dari dataran tinggi. Contohnya seperti pemandangan yang ada di puncak gunung. Jika kita sangat menikmati ketika melihat pemandangan tersebut, maka apakah sama dengan ketika kita melihat pemandangan tersebut dari selembar foto. Sudah pasti rasanya akan jauh berbeda.
Saya meyakini jika kita menunda menikah demi menunggu kemapanan ekonomi dapat diumpamakan seperti ingin melihat pemandangan indah di puncak gunung, tapi hanya dari selembar foto. Tentunya akan terasa berbeda dengan menikmati pemandangan indah dengan cara mendaki ke puncak gunung dengan bersusah payah untuk melihat pemandangan yang indah.
Keindahan pemandangan alam bukan hanya terletak pada komposisi warna dan lain sebagainya. Keindahannya juga terletak pada proses yang harus dilalui untuk melihat pemandangan tersebut. Bahkan tak jarang seseorang yang sukses berkat dukungan isterinya. Tengok saja kisah Nabi Muhammad saw dengan isterinya Siti Khadijah.
Jika dipikir mungkin terasa aneh sekali. Tapi saya percaya, perasaannya akan sangat berbeda sekali jika suami-istri berjuang bersama dari titik nol menuju titik puncak kesuksesan, daripada harus menunda menikah demi kemapanan yang terkadang belum pasti waktunya.
Meskipun begitu masih ada saja yang berpendapat, tidak ingin mengajak pasangannya susah karena belum mapan. Ketika sudah mapan, barulah yang bersangkutan mengajak pasangannya menikah. Heemmm... Hemat saya, ini hanya buang-buang waktu saja, sementara waktu terus berlari dan tak akan kembali.
Sekali lagi tak ada niat untuk menggurui atau merasa lebih pintar, tapi saya hanya ingin berbagi. Coba kita simak sabda Rasulullah saw, “Bukan termasuk golonganku orang yang merasa khawatir akan terkungkung hidupnya karena menikah, kemudian ia tidak menikah.” (HR Ath-Thabrani).
Rasulullah saw juga bersabda kepada Ali r.a. yang menjelaskan, “Hai Ali, ada tiga perkara yang janganlah kamu tunda-tunda pelaksanaannya, yaitu shalat apabila tiba waktunya, jenazah bila sudah siap penguburannya, dan wanita (gadis atau janda) bila menemukan laki-laki sepadan yang meminangnya.” (HR Ahmad).
Dan yang juga tak kalah pentingnya, yaitu sabda Rasulullah saw agar para pemuda termasuk saya agar tak salah langkah dalam memilih tambatan hati, “Wanita dinikahi karena empat faktor, yakni karena harta kekayaannya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Hendaknya pilihlah yang beragama agar berkah kedua tanganmu.” (HR Muslim).
Menikah yuuk...!

Tuesday, April 12, 2011

Perjalanan ke Baron

Menulis ini dikarenakan melihat salah satu hasil gambar yang diambil ketika berada di Pantai Baron.
Mungkin sebulan yang lalu. Pada suatu minggu aku dan 3 orang teman lainnya sepakat untuk menyewa mobil selama setengah hari untuk menghadiri pesta seorang teman sekerja, di Bantul Yogyakarta. Anehnya (karena baru pertama sekali) acara hanya diselenggarakan selama 1 jam! Nah tentu saja waktu yang masih panjang kami isi dengan jalan-jalan di daerah bantul. Aku hanya ingat jalannya luruuuuusss terusss..disampingnya ada persawahan.
Setelah selesai bersalaman dan mencoba seluruh makanan yang disediakan (what??) nyoba lo artinya dikit-dikit (banyak juga ga papa kok) :)) kita pergi mengunjungi  rumah salah satu mantan "pembantu RT" seorang teman yang pernah tinggal bersamanya yang berada di daerah Bantul. Whoaaaa....jadi kangen pulang kampung rasanya waktu itu. Cuaca mendung dan sesekali ada hujan rintik-rintik. Sepanjang jalan kami bercerita dan bercanda (ingat makanan di dalam perut: masih baik-baik saja)..
Setibanya di Bantul, ternyata si "mbak" menyediakan cemilan yang cukup beragam dan nafsu makan saya pun memuncak (what?? 2nd) :)) dengan menyeruput teh manis hangat makanan itu pun dengan aman masuk kedalam perut.
Setelah selesai bercengkerama kami yang berjumlah 7 orang dewasa dan seorang anak dari seorang teman melanjutkan perjalanan dari Bantul menuju Pantai Baron..Dalam perjalanannya sungguh menyeramkan ha ha ha kenapa? Karena yang nyetir mobilnya gak sadar kalo ada manusia yang mabok darat (Aku) berusaha menahan rasa mual selama lebih kurang 1 jam setengah dan setelah mengalami naik turun bukit, kemudian salah haluan dan balik arah dan bertanya-tanya berkali-kali dengan penduduk setempat akhirnya Alhamdulillah sampai juga di Pantai Baron yang disebut-sebut salah satu tempat wisata terkenal di Jogja.
Pertama sekali menginjak pasir di sana (tepatnya buka pintu mobil) langsung saja aku menuju Pohon Kelapa yang jaraknya 2 meter dari mobil dan langsung mengeluarkan isi perutku yang sebenarnya dari  semenjak perjalanan sudah berteriak ingin keluar :( dan habislah semuanya..Oh..tunggu dulu gak sampai di situ saja lo..masuk Toilet ada ronde ke 2 dan yah...begitulah (rasanya gak enak bangeeet) tapi semua tercover setelah foto-foto bersama haha (masak?) ..hiyaaaa
Kita pada ga rencana bawa sandal jepit, so beramai-ramai beli sandal jepit you know me so well...muahal sekalay sandal nyeu...dan begitulah ...sampai magrib main-main di Pantai, foto-foto doank, terus sms-an hehe, mesen teh (karena numpang duduk di tempat jajanannya) 
lalu pulang dengan rasa khawatir kalo-kalo melewati jalan yang sama lagi..dan ternyata tidak Alhamdulillah, tapi masih trauma nih..karena emang cepet banget kecepatan mobilnya oalaaa...dara..dara...Malamnya kita singgah di Bukit Bintang yang katanya juga terkenal di kalangan para muda-mudi Jogja (alahay..) Pemandangannya indah banget...dari atas bukit mengarah ke kota Jogja dengan lampu-lampu kota bagaikan bintang. Kita nge-mie di salah satu pojok jajanan pinggir jalan dan aku memesan Susu Jahe meskipun terasa sedikit manis tetapi Bismilah semoga bisa menghandle perutku yang tadi mengulah :)
Oww. yah..nah di sini aku kangen banget sama kamu (nah lo sapa Ra?) Huft..yang pasti gara-gara lihat pesawat tiap menit terbang dan mendarat oh tidak..hati kecil berteriak Love You.....Miss You..Miss You.. Yang pasti aku sayang kamu (Loh??)